Setiap manusia harus melakukan perubahan untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungannya yang kompetitif, perubahan bersangkut-paut dengan perihal membuat sesuatu dalam bentuk lain. Tekonologi, persaiangan,ekonomi,perubahan sosial,budaya,politik merupakan tema kekuatan yang merangsa perubahan. Namun dalam hal ini, sabjek dari tulisan ini adalah Manusia/Orang, mereka merupakan pelaku dari perubahan. Cepat atau lambat, mauh atau tidak mauh, suka atau tidak suka, benci atau cita ketika berbicara perubahan tentunya manusia merupakan sebab dari perubahan itu sendiri yang tentunya digerkan oleh kekuatan lain yang penulis sendiri yakini adalah dari Sang Halik Allah SWT.
Manusia sebagai sebab pembaharu selain melekat dalam fakta pengakuan objektif kehidupan yang ada. Pada saat yang sama secara substansial (dari segi kandungan aktifitas manusia) dapat dibuktikan dengan percikan gagasan perubahan zaman manusia http://www.blogger.com/img/blank.gifmoder/manusia teknoligi yang dengan sendirinya mengarah pada perubahan hakiki. Selain itu dapat dirujuk pada pemikiran resmi yang dituangkan dalam kehidupan manusia sebenarnya adalah mahluk yang senantisa melakukan gera yang pada akhirnya mengalami perubahan dari titik nol (o) ke sekian kali perubahan yang telah dan akan dialaminya. Ketika aspek perubahan-gera atau pembaharuan manusia dalam hidupnya tersebut berjaling-berkelindan, yang melahirkan sistem gerakan tercermin pada (sifat/tabiat) itu sebagai wujud perubahan dari sikap-sifat pembaharuan yang terjadi dalam diri manusia/orang itu sendiri dan setelah itu akan tecermin dalam hidup dan kehidupnya, yang dengan sendirinya terapriliasi dalam lingkungan sekitanya nyata.
Pembaharuan sikap manusia itu bahkan telah mepertautkan dirinya dengan mata rantai gerakan pembaharuan prilaku dan karakter yang melekat dalam dirinya secara asli orizinal baik terhadap lingkungan kehidupan maupun pada dirinya sendiri. Menandai kebangkitan atau kebangunan manusia secara bebas atau merdeka seutuhnya “pada kehidupan manusia merdeka seutuhnya”.
Ambil kisa...
Proses Proletarisasi Masyarakat Adat dalam kehidupan diatas tanah Moyang-nya merupakan fakta nyata yang ada adalah perlu diungkapkan. Mereka dengan sendirinya cepat atau lambat dalam zaman yang berbeda akan tergusur atau terpinggirkan dari wilayah tanah adat mereka sesungguhnya jika tidak mampu melawan gemuruh angin kapitalis,liberalis dan globalisasi dunia bebas yang nyata.
Begitupun Proletarisasi Petani dan nelayan, tergusurnya para petani dan para nelayan dari lahan mereka merupakan proses proletarisasi dalam kehidupan desa, dan membengkaknya kelas petani dan nelayan tidak bertanah dengan segala dampaknya bukanlah fenomena baru di dalam kehidupan ini (ber-Indonesia). Dalam buku Kesalehan Sosial pada halama 1 yang dikemukakan oleh Peniliti Geertz di Mojokuto menunjukkan hal tersebut dan sudah terjadi sejak masa penjajah, paling tidak sekitar pertengahan abad kesembilan belas. Sedangkan menurut penulis dalam kesempatan ini hilangnya tanah atau tempat mencari nafka bagi masyarakat petani dan nelayan merupakan efek perubahan yang dialami oleh manusia itu sendiri disebabkan ketidakmampuan dan ketidak berdayaan kelompok kecil menghadapi araus dan gelombang perubahan zaman ini yang sengaja diciptakan oleh kelombok yang bermodal besar. Haruskah, kaum ini ditolong oleh mereka yang memiliki hal lebih? atau denga terpaksa membuka selembar tangan kepada bangsa ini yang menjadi sandungan rakyatnya?, ini yang menjadi pertanyaan inti dari tulisan yang ada. Ketika masyarakat petani atau bolehlah penulis katakan kaum mustahafin kaum yang tepinggirkan dari kehidupan sosial,tentunya tidak menyalahi keterwakilan mereka, “memohon untuk sudi kiranya ada yang memberi secercah harapan ataupun bantuan alakadarnya guna memperahankan kekhudpan mereka yang terasa berat dipikul”. Memberi sebahagian rezki adalah merupakan prilaku mulia serta wajib yang semestinya kita penuhi dengan senang hati tampa ada pikir panjang, tampa ada pamri.
Mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Toer “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Merupakan ungkapan yang mendorong hati dan pikiran sejauh mana kita berbuat adil bagi diri kita dan bagi diri orang lain serta bagi lingkungan dan kehidupan kita yang ada. Jika perubahan hijrah hati dan pikiran ini kit maknai, kita bawah kedalam kehidupan kita masing-masing dalam berbuat untuk sesama maka dengan sendirinya keberadaan kita akan bermakna bagi alam semesta/menjadi rahmat bagi alam kehidupan. Sesungguhnya yang pernah contohkan oleh orangorang hebat terdahulu; Baginda Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidik, atau Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, atau Bapak Bangsa Kita Soeharto dan M. Hatta. Merekamereka adalah manusia terhebat yang pernah merubah/ menghadirkan perubahan kehidupan bagi manusia yang tak adil dibuat oleh manusia tak bermanusiawi disebabkan gerak mereka.
diam adalah mati, bergerak adalah hidup
-----
Oleh : Syam Inay
Rabu, 02 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar