Rabu, 02 Juni 2010

Melakukan Perubahan atau Mati..!!

Setiap manusia harus melakukan perubahan untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungannya yang kompetitif, perubahan bersangkut-paut dengan perihal membuat sesuatu dalam bentuk lain. Tekonologi, persaiangan,ekonomi,perubahan sosial,budaya,politik merupakan tema kekuatan yang merangsa perubahan. Namun dalam hal ini, sabjek dari tulisan ini adalah Manusia/Orang, mereka merupakan pelaku dari perubahan. Cepat atau lambat, mauh atau tidak mauh, suka atau tidak suka, benci atau cita ketika berbicara perubahan tentunya manusia merupakan sebab dari perubahan itu sendiri yang tentunya digerkan oleh kekuatan lain yang penulis sendiri yakini adalah dari Sang Halik Allah SWT.
Manusia sebagai sebab pembaharu selain melekat dalam fakta pengakuan objektif kehidupan yang ada. Pada saat yang sama secara substansial (dari segi kandungan aktifitas manusia) dapat dibuktikan dengan percikan gagasan perubahan zaman manusia http://www.blogger.com/img/blank.gifmoder/manusia teknoligi yang dengan sendirinya mengarah pada perubahan hakiki. Selain itu dapat dirujuk pada pemikiran resmi yang dituangkan dalam kehidupan manusia sebenarnya adalah mahluk yang senantisa melakukan gera yang pada akhirnya mengalami perubahan dari titik nol (o) ke sekian kali perubahan yang telah dan akan dialaminya. Ketika aspek perubahan-gera atau pembaharuan manusia dalam hidupnya tersebut berjaling-berkelindan, yang melahirkan sistem gerakan tercermin pada (sifat/tabiat) itu sebagai wujud perubahan dari sikap-sifat pembaharuan yang terjadi dalam diri manusia/orang itu sendiri dan setelah itu akan tecermin dalam hidup dan kehidupnya, yang dengan sendirinya terapriliasi dalam lingkungan sekitanya nyata.
Pembaharuan sikap manusia itu bahkan telah mepertautkan dirinya dengan mata rantai gerakan pembaharuan prilaku dan karakter yang melekat dalam dirinya secara asli orizinal baik terhadap lingkungan kehidupan maupun pada dirinya sendiri. Menandai kebangkitan atau kebangunan manusia secara bebas atau merdeka seutuhnya “pada kehidupan manusia merdeka seutuhnya”.
Ambil kisa...
Proses Proletarisasi Masyarakat Adat dalam kehidupan diatas tanah Moyang-nya merupakan fakta nyata yang ada adalah perlu diungkapkan. Mereka dengan sendirinya cepat atau lambat dalam zaman yang berbeda akan tergusur atau terpinggirkan dari wilayah tanah adat mereka sesungguhnya jika tidak mampu melawan gemuruh angin kapitalis,liberalis dan globalisasi dunia bebas yang nyata.
Begitupun Proletarisasi Petani dan nelayan, tergusurnya para petani dan para nelayan dari lahan mereka merupakan proses proletarisasi dalam kehidupan desa, dan membengkaknya kelas petani dan nelayan tidak bertanah dengan segala dampaknya bukanlah fenomena baru di dalam kehidupan ini (ber-Indonesia). Dalam buku Kesalehan Sosial pada halama 1 yang dikemukakan oleh Peniliti Geertz di Mojokuto menunjukkan hal tersebut dan sudah terjadi sejak masa penjajah, paling tidak sekitar pertengahan abad kesembilan belas. Sedangkan menurut penulis dalam kesempatan ini hilangnya tanah atau tempat mencari nafka bagi masyarakat petani dan nelayan merupakan efek perubahan yang dialami oleh manusia itu sendiri disebabkan ketidakmampuan dan ketidak berdayaan kelompok kecil menghadapi araus dan gelombang perubahan zaman ini yang sengaja diciptakan oleh kelombok yang bermodal besar. Haruskah, kaum ini ditolong oleh mereka yang memiliki hal lebih? atau denga terpaksa membuka selembar tangan kepada bangsa ini yang menjadi sandungan rakyatnya?, ini yang menjadi pertanyaan inti dari tulisan yang ada. Ketika masyarakat petani atau bolehlah penulis katakan kaum mustahafin kaum yang tepinggirkan dari kehidupan sosial,tentunya tidak menyalahi keterwakilan mereka, “memohon untuk sudi kiranya ada yang memberi secercah harapan ataupun bantuan alakadarnya guna memperahankan kekhudpan mereka yang terasa berat dipikul”. Memberi sebahagian rezki adalah merupakan prilaku mulia serta wajib yang semestinya kita penuhi dengan senang hati tampa ada pikir panjang, tampa ada pamri.
Mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Toer “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Merupakan ungkapan yang mendorong hati dan pikiran sejauh mana kita berbuat adil bagi diri kita dan bagi diri orang lain serta bagi lingkungan dan kehidupan kita yang ada. Jika perubahan hijrah hati dan pikiran ini kit maknai, kita bawah kedalam kehidupan kita masing-masing dalam berbuat untuk sesama maka dengan sendirinya keberadaan kita akan bermakna bagi alam semesta/menjadi rahmat bagi alam kehidupan. Sesungguhnya yang pernah contohkan oleh orangorang hebat terdahulu; Baginda Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidik, atau Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, atau Bapak Bangsa Kita Soeharto dan M. Hatta. Merekamereka adalah manusia terhebat yang pernah merubah/ menghadirkan perubahan kehidupan bagi manusia yang tak adil dibuat oleh manusia tak bermanusiawi disebabkan gerak mereka.
diam adalah mati, bergerak adalah hidup

-----
Oleh : Syam Inay

Kamis, 27 Mei 2010

Borobudur Memang Maha Karya...!!!

Syukur Alhamdulillah,
Saya tidak menyangka pada hari ini, Kamis 26 Mei 2010 bertamasya ke Borobudur. Adalah inginku sejak lama untuk melihat secara dekat Borobudur maha karya 100% produk nenek moyang negri kita Nusantara/Indonesia. Bersama saudaraku Mifta, sejak pagi belum juga matahari dihari ini nampak panasnya, udara pagi pun belum menghangat, kami pun bergegas meluncur ke Borobudur yang juga adalah 1 dari SEKIAN keajaiban dunia yang dikagumi oleh warga dunia, memang betul kemaha angungan Borobudur terlihat ketika pengunjung-nya bukan hanya berdatanngan dari belahan tanah air saja namun dari berbagai belahan dunia pun ada dan pernah berdatangan untuk menyaksikan secara dekat kemaha angungan Borobudur. Menurutku rakyat Indonesia-kiranya berbanga hati ketika Borobudur masih berdiri megah maka kiranya Indonesia juga akan kokoh berdiri megah. Udara dingin mengalir bagai air surga ketika saya dengan begitu dekatnya memanfaatkan kesempatan ini untuk berfose bersama, tentunya merupakan kebanggaan tersendiri sebaga anak negri, masih juga menyaksikan kokohnya batu bebatuan melekat kuat bagai pulau-pulau negriku tercitah...
sepertinya ada harapan untuk bangkit kembali, kembali merebut zaman keemas yang telah sirnah ditelan oleh zaman yang ada, sepertinya ada tandah kebangkitan yang dipancarkan oleh bangunan-bangunan megah seperti Borobudur, Parambanan DLL.
ketika kemegahan Borobudur ini terasa dihati
kemegahan akan bangsa ini pun terasa dalam jiwa
akankah bangsaku kembali merebut zamanya
mengejar ketertinggalan massa kelam
yang begitu meremas nasionalisme kita
untuk semetara waktu...
dengan masih berdirnya BOROBUDUR
banggalah sebagai manusia INDONESIA
semoga, zaman yang pernah ada
kembali dalam genggaman tangan IBU PERTIWI
KETIKA anak cucu kami BERCERITA kelak kepada anakanak mereka
semua akan indah
semua akan dikenang
semua akan bangkit
ketika semua memiliki
apa yang sedang ada...
semoga...
Tuhan Maha Kuasa
karena kuasa Tuhan, kesempatan ada disetiap zaman...

----
syam Inay

Selasa, 25 Mei 2010

sebyar-sebyar-sebyar


Lama aku menanti

Dalam alam tersimpan simponi keindahan
Mengetuk hati kuasa Tuhan

Jiwa tak berkata sedih
Senja membawa mentari entah kemana
Alam Papua megah mempesona
Bagai mengalirkan jiwa-jiwa indah

Mata tak mampu berkedip
Saat berkilau intan permata
Semua membisu
bersiul bagai burung cendrawasih
Warna pelangi
menepi bersama gelombang laut emas
Mengihitung
kayanya alam papua
tra cukub
bila air jadi tintanya
pepohonan jadi penanya
hamparan bumi dan langit jadi kertasnya
menghitung nikmat Tuhan tak kuasa

mata meneteskan gas alam
Toki-toki tifa mengetuk hati
Manusia-manusia tersembunyi
Bagai penjahat, luda-luda membanjiri wajah mereka

Ah, semua memang harus terjadi
Karena kami sengaja ada

Untuk dibantai
Oleh zaman yang ada




Belum lama ada ...... !!!





Dari lubuk hari yang paling kejam
Malam ini kau ingatkan aku pada teriakan orang-orang
pada kampung tua,
sepi menyepi,
Kumal mengusam
sudahlah tak usah kau membicarakannya
telah robek lembaran kepercayaan
dalam jalan setapak yang pernah kita lewati
saat langit menitikkan gerimis nelangsa
seperti hari itu
kau tusukkan ujung lida kedadaku
lalu kau iris kecilkecil,
dengan rapihnya kau potong bagian kecil itu
menjadi paling kecil bahkan lebih kecil dari semua yang terkecil
sampai tak terlihat merahnya
?? pun oleh kau
sebelum lembar langit membalut malam
carik-cari angin nirwana
membelo bagai burung cedrawasih
dari caramu sepertinya kau mulai dusta padaku
ah, sudahlah
sebelum kau temukan jasadku diujung senja
dengan potongan potongan pipah yang menyerupai matamu
aku ingin melihatmu dengan caha terangmu bernari-nari malu-malu dihalaman kampungku
diiringi gendangan tifa, melodi gitar dan suara-suara ratapan anak bayi, srimpi dan beduk terdengar ditelinga
serta gelak tawa yang kian mengendap dalam gelasku
sedang aku tergeletak dibalik mimbar
irisanirisan terkecil tubuhku
dan segelas air yang rasanya asin menyerupai air mata dalam geliak cahaya dilaut teluk
aku ingin mendengar suara kesombonganmu
tembang keserakaan roh-roh jahat, gula-gula kesobongan firaun, dan khorun
sayupsayup tangis bayi saat senja mulai tertidur
dan bunyibunyi aneh
seperti yang kau ceritakan padaku malam itu
Kini aku menjelma dalam pelita besar di pekarangan laut teluk
kadang menjadi api memanaskan kulit bumi juga kulit kau saat berjemur di pagi menjelang
dan burung cendrawasih yang bernyanyi saat senja tiba
”untuk kalian... sajak ini lahir dari lubuk hari yang paling kejam. ”

Bintuni, 2010

Malam sehelai

Malam sehelai, waktu syair quran menggetarkan titik-titik kalbu jiwa hati kecilku
Saat, Disudut lorong kelas dalam gelap malam ketia azan dilantungkan mendayung-dayung menebar keharuan saat usai dilantungkan Qur’an sura’t lukman
Merinding arona bersalah membasahi bola mata pipi ada tak tertahankan
Sejenak kutarik nafas merenung kehidupan membelai air mata kesedihan, penyesalan dan membisik memohon ampunan
Aduhai kehudapanku yang ada sebentar saja
Saat tawa dan tangis selalu menghiyasi lembaran hari-hari kehidupan
Sungguh, ada waktu yang terus berlari ada kisa yang pergi dan dantang
Membikai menjadi warna kehidupan hidup
Ketika suwara renung membelai setia serpihan sepi-sepi malam
Warna air mata Membelai gelap menyinari kegelapanku
Hampir saja dunia ini ku anggap hitam, sungguh karena terlalu banyak dosa-dosa yang kulakukan
Namun, sebersik cahaya quran membisik menerangi hitam kehidupan yang ku anggap
Ada yang pasti berubah ada yang tak mungkin datang mewarnai kampas kehidupan yang ada
Sedang, ketika malam menghujani pilipih mata
Apakah sedang berupaya menertawai kehidupan,
Merenungkan kehidupan
Menyesali kehidupan
Atau bahkan membenci kehidupan
Ah, kehidupan itu tidak bersalah
Kehidupan itu benar dan adalah nyata adanya
Cuma sedikit jalan yang berbelok mengajak kita pun berbelok
Sedang ada jalan yang lurus sebenarnya untuk kita lalui.
Yang nyata ketika kita kembali padaNya.
Aduhai hamba yang lupuh dari dosa dan sala
pada bunda dan ayah
Kan ku sujut dalam sajadah malam berdoa padaNya
Memohon dosa-dosa mereka dapat terampunkan
Memohon mereka selalu baik-baik disana adanya
Memohon mereka senyum gemulai bahagia, diberih tempat indah dalam surga-surga saat semua bersaksi PadaNya.

Nyanyian tangis alam Indonesia

Ada saja waktu datang menghadang nafas ini
Ada saja jaman membawah berita manusia
Berita alam membawa mencana,
ketika semua mulai tergila-tergila
merampas harta alam dengan merusaknya begitu saja
pujaan alam bumi negriku bagai tetesan syurga turun kebumi
langit-langit menghitam
laut mengeruh
sungai penuh dengan sampah-sampah
gunung habis lonsor digusur hujan tak ada pepohonan yang menahannya, udara tertutup kabut
pelangi-pelangiku berwarna-warni
mejikihibiniuh (merah, jingga, kuning, biru, nila, unggu)
sudah malu menampakkan warnanya
konon bidadari-bidadari turun kebumi bermain-main didanau tak tampak lagi.
ah, nurani ini marah, nurani ini jengkel, nurani ini emosi.
Emosi yang bermain-main didalam otak ini sudah penuh
Hati sudah tak menahan lagi kebiadaban manusia
Lewat tangan-tangan mereka, sepertinya dunia ini sudah murkah pada manusia.





SEBENTAR
Sebentar
Tunggu sebentar
Sebentar,
tunggu saya.
Sebentar saja
Saya ijin
Sebentar...
ada yang aku lihat Namun tak nampak
ada yang aku rasa Namun tak terabah
ada yang aku fikir Namun tak kelihatan
ada yang aku ucap Namun tak terdengar
oleh mata
oleh rasa
oleh otak
oleh telinga
sebentar....
tunggu sebentar...
sebentar,
tunggu saya.
Sebentar saja
tunggu sebentar saja
ada yang ada
datang tak bersuara pergipun tak pamit
tunggu
sebentar saja...
biar kita bersama berjalan bergandengan tangan
berkelana diatas pekarangan rumah ini
diats rumah roh-roh yang sedang menanti kedatangan kita
tunggu duloh,
saya hanya mengingatkan
harta dunia yang kita rampas dari orang lain
tak dibawah mati
lebih baik buang saja disini, biar fakir miskin, anak-anak terlantar yatim piyatu,kaum duafa merekalah yang berhak mengambilnya.
keserakahan menjadi orang kaya tak ada gunanya
cukupalah, kita berhenti menyombongkan diri dengan kebodohan dan kemiskinan kita semula.
Lebibaik,
Kita berdansa-dansa diatas nisan kubaran
Sambil menanti waktu
malaikat pencabut nyawa menghunus roh kita.
Sebentar
Sebentar saja
Jangan dulu Kau cabut roh ini
Saya belum bertaubat
Astaqfirullah Al Azim, Semua jadi diam. Posisi ini.
Malam ini
Malam minggu
Ijinkan aku bercinta
Dengan mu jiga dengannya...
Seperti engakau bercinta denganku
Dalam gelap, mala tampa bintang.

kampungku, Sebyar Rejosari terbakar (10 Mei 2010)


kampungku Sebyar Rejosari telah tebakar, 6 hari saya disana. merupakan duka bagi kita semua...bagai Hirosima dan nagasaki 2 kota di Jepang dibom habis oleh sekutu, tinggal puing2 rumah, mengotori sejau mata memandang. Ada sedih tak kuasa menahan, duka lara pergi bagai air mengalir. adalah catatan emas bagi mereka (korban) mengikhlaskan untuk menerima semua bencana ini..."Tuhan menguji umatnya sesuai dengan kemampuan mereka masing2", setelah kesulitan pasti ada kemudahan-setelah kesengsaraan pasti ada kebahagiaan. semoga setelah bencana ini ada maksud dari Tuhan yang amat luar bisa diluar dari kemampuan akal kita. sesama manusia sudikah kiranya untuk mengulurkan tangan menolong saudara2 kita yang tertimpah musibah...SEMOGA niat baik saudara dapat dibalas oleh Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang...amin.

sudah keras HATI mereka "kata2 RAKYAT tak dianggap lagi"

semua, mulai nampak,apa yang nampak...?
walau penampakan-penampakan itu
bukan untuk separuh manusia
bukan pulah untuk RAKYAT seutuhnnyah
ah, biarkan saja mereka saling menyerang
biarkan saja mereka saling menfitna
sesungguhnya bukan pulah untuk RAKYAT seutuhnya
adalah sesuatu yang aneh bilah keanehan itu diperdebatkan,
atas dasar kepentingan mereka-mereka juga
sudahlah, hai para pemimpin lalim
tak usalah kau tutup mukamu dengan topeng2 dalam karnafal RAKYAT berlangsung,
ada dengan kesengsaraan mereka dihadapan matamu.....
saat,
Akhir kunjungan abad 20 dan menjelang awal kunjungan abad 21 ini. Semua mulai nampak kelihatan ketika saya,kamu,kita dan RAKYAT seutuhnya mulai berani berkata-berfikir bebas tentang negri ini. Ah, janganlah meragukan nasionalisme yang melekat pada dada kami, yang mengalir bagai air,bergetar,gelisa, bergoyang-goyang bagai nyiur disepanjang pantai negri ini. Pancasila-sudah lama saya mengafalnya saat pendidikan moral pancasil oleh guruh waktu SD tempo doloeh selalu diingat,baru sekarang sadar adalah inilah praktik nilai yang telah kudengar lama-yang tertanam bagai tiang-tiang langit berdiri kokoh berupaya menonggak negriku ini. Terserah, mereka yang meragukan... Apakah syair-syair tanah air yang selalu didengungkan itu, yang bagus-bagus mengenai tingka laku penguasa adalah bentuk nasionalisme,BENAR. AH,pokoknya berbicara selalu yang bagus-bagus itu mereka yang nasionalismenya mumpunin, “juga salah. LALU, Bukankah kampanye menyalamatkan tanah,air dan udara negri ini adalah bentuk wujud dari cinta itu pulah. Jadi, berhentilah berbicara kemakmuran, kesejahteraan, nasionalisme, DLL. SEDANG sumber daya negri ini sedang diam-diam dirampok-diperas oleh mereka yang seraka. Bukan curiga-bukan pulah menuduh Cuma beranggap bahwa ada sebagian anak negri juga ikut menjarah-merampok-membantu
-memeras kekayaan alam negri ini. Entah, bentuk pekiran apa yang merasuki otak mahluk ini konyolnya.
Terlalu mudah untuk mengakui, bahwa saya begitu bersama dengan teman-teman yang lain bersama yang lainnya pulah sesungguhnya air mata dan senandung perjuangan hanya untuk Indonesia Raya...bukan apa-apa sekedar berkata-bukan apa-apa pulah sekedar berikrar. Dari, letak kampung yang amat sangat jauh dari Jakarta-ibu kota negri ini, bisa bermimpi sedikit yang ada disana akan dibangun disini...di kampung kita ini-adalah 1 dari sekian kampung yang menguatkan republik ini.Amin...
Sebab, kampung yang sayang tinggal ini juga membantu negri ini menambah defisa negara dengan dibangunnya perusahaan maha mega ini. gas alam cair yang ditarik ini, adalah sah milik RAKYAT, harta rakyat nusantara yang kebetulan berada dan disemburkan di atas tanah adat bumi Sebyar.INDONESIA.

seperti hari itu
kau tusukkan ujung lida kedadaku
lalu kau iris kecilkecil...
saya melewati hari demi hari di musim panas bersama teman-teman di kampung-diatas luasnya kampung itu. Belakangan, setelah saya berbicang-bincang diiringi riuk rendah bunyi-bunyi rimba belantara. terdengar selalu kicauan burung cedrawasih, memberi musik alami yang menghibur-mengasihkan-memberi semangat hidup baru, sekian rasa kumal menambah kebosananku kembali pulih.
Belakangan setelah saya tertidur saya bermimpi tentang pisau,parang, busur,anak panah,tumbak,kampak,noken,kole-kole,panci,wajan,tifa DLL alat tajam ditunjukan dihadapanku dan waja-waja tak kukenal hadir dalam mimpiku, diantara sekian waja ada satu waja yang saya ingat. Saya bermimpi tentang:
pisau yang tak bisa digunakan untuk memotong
busur yang tak bisa digunakan untuk memanah
anak panah yang meleset berlari tak terarah
tumbak yang tak bisa merobek hewan buruan
kampak yang tak bisa digunakan untuk memotong sagu,memotong kayu bakar atau...
noken yang tak dapat diisi apapun
kole-kole yang dapat digunakan karena tak bisa buat baru sebab kayu yang besar sudah sulit didaptkan dihutan belantara
panci dan wajan yang sudah lama bocor tak bisa digunakan untuk memasak masakan
bunyi tifa yang tak pernah digendangkan lagi sebab sudah diganti dengan alat musik lainnya.
Barang-barang yang ada sudah tak layak lagi dipergunakan,SEBAB...!
Dalam mimpi ini, sempat saya bercakap dan percakapan bersama seseorang yang suaranya terdengar lembut,bersahabat namun sedikit keras. Seingatku suara orang itu pernah saya dengar dan nuraniku yakin bahwa suara itu adalah Mayor Gegetu, itu masi saya ingat. Dan semoga anggapanku ini betul.

dengan rapihnya kau potong bagian kecil itu
menjadi paling kecil bahkan lebih kecil dari semua yang terkecil
sampai tak terlihat merahnya???
pun oleh kau

memang telah banyak yang tauh bahwa sah-nya mereka sudah memotong-motong apapun yang telah kami sepakati. Sudahlah, tak perlu lagi di jelaskan tentang segala konsep penipuan yang telah dan nantinya dilakukan. Kawan saya di tempat lain pernah menjelaskan, itu semua ada itu-itunya. Pernah dia kembali dari kota membawah naska yang sudah disepakati oleh...! yang dia miliki adalah kopiyan dari sebuah draf MOU; entah, kesepakatan apa dan bagaimana sehingga itu bisa disepakati oleh...! MOU itu tak ditunjukan kepada sembaran orang sebab takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi ditempat ini.
MOU itu tinggal disepakati oleh siapa dan dimana dari dasar apa oleh orang yang tinggal entah darimana asalnya.
Tampaknya ada hal yang tertinggakal terletak ditanah ini tak dimasukan dalam MOU suci itu tampaknya tak utuh, sungguh menjengkelkan sebab beberapa tahun lagi baru bisa dirubah sesuai dengan aspirasi yang boleh jadi dari mana, oleh siapa, kapan, dimana dan untuk siapa...? tak pernah dijelaskan pada kami. Memang benar-benar menjengkelkan dan sekaligus menimbulkan amukan amarah yang tak bisa dihitung oleh angka-angka matimatika yang dipelajari oleh adik-adil kita yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD). Lebih terasa absurd dari pada kejam, seperti kertas-kertas pembungkus pisang goreng selembar kertas yang dari mata kami adalah merobek-robek segala apapun yang melekat pada kami, sungguh ini bukan menuntut untuk diberih, mencari makan atau apupun menurut kalian untuk bisa digadai dengan segala yang bisa ditukar dengan beberapa koin dengan lubang otok yang dipenuhi dengan berbagai macam remeteme kehidupan dunia: penipuan,perampokan,penjarahan,pemalsuan,penindasan,perkelahian,pemerkosaan,penghinaan,penghiyanatan,pelajacur,melacur,perusakan,penindasan,pendustaan,penjilatan,permusuhan,pembunuhan,pemusnaan serta adudomba sebagai pelengkap segala rencana setan “iblis mereka”.
Kelihatan seperti, binatang jalan tersembunyi dalam topeng karnaval, tapi dalam sekian menghilang dan akal bulus mereka sudah ditularkan pada mereka-meraka yang bisa dianggap sebagai pasukan jihat kampungan jika tak ada uang mereka membeok bagai burung hantu, jika ditegur bagai kucing kebasaan dan bila mendapat sesuatu bagai anjing-anjing melacurkan diri diatas kuburan sepi sambil pesta pora menikmati segala air alkohol memabukan, setelah itu tertidur bagai keong kepanasan komprome

sebelum lembar langit membalut malam
carik-cari angin nirwana
membelok bagai burung cedrawasih
dari caramu sepertinya kau mulai dusta padaku
ah, sudahlah

sebelum kau temukan jasadku diujung senja
dengan potongan potongan pipah yang menyerupai matamu
aku ingin melihatmu dengan caha terangmu bernari-nari malu-malu dihalaman kampungku
diiringi gendangan tifa, melodi gitar dan suara-suara ratapan anak bayi adalah syair nyanyian merdu, srimpi dan beduk terdengar ditelinga
serta gelak tawa yang kian mengendap dalam gelasku
sedang aku tergeletak dibalik mimbar
irisanirisan terkecil tubuhku
dan segelas air yang rasanya asin menyerupai air mata dalam geliak cahaya dilaut teluk
aku ingin mendengar suara kesombonganmu
tembang keserakaan roh-roh jahat, gula-gula kesobongan firaun, dan khorun
sayupsayup tangis bayi saat senja mulai tertidur
dan bunyibunyi aneh
seperti yang kau ceritakan padaku malam itu
Kini aku menjelma dalam pelita besar di pekarangan laut teluk
kadang menjadi api memanaskan kulit bumi juga kulit kau saat berjemur di pagi menjelang
dan burung cendrawasih yang bernyanyi saat senja tiba
”untuk kalian... tulisan ini lahir dari lubuk hari yang paling kejam”

“Bisa saja Para korpotokrasi berlenggang kangkung pergi” sedang RAKYAT membeok kesakitan sepanjang zaman...!!!

Oleh: syamsul inay
Penulis adalah Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintaha Abdi Negara Jakarta (tahun 2008)
Dan Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Priode 2007-2008)