Selasa, 25 Mei 2010

sebyar-sebyar-sebyar


Lama aku menanti

Dalam alam tersimpan simponi keindahan
Mengetuk hati kuasa Tuhan

Jiwa tak berkata sedih
Senja membawa mentari entah kemana
Alam Papua megah mempesona
Bagai mengalirkan jiwa-jiwa indah

Mata tak mampu berkedip
Saat berkilau intan permata
Semua membisu
bersiul bagai burung cendrawasih
Warna pelangi
menepi bersama gelombang laut emas
Mengihitung
kayanya alam papua
tra cukub
bila air jadi tintanya
pepohonan jadi penanya
hamparan bumi dan langit jadi kertasnya
menghitung nikmat Tuhan tak kuasa

mata meneteskan gas alam
Toki-toki tifa mengetuk hati
Manusia-manusia tersembunyi
Bagai penjahat, luda-luda membanjiri wajah mereka

Ah, semua memang harus terjadi
Karena kami sengaja ada

Untuk dibantai
Oleh zaman yang ada




Belum lama ada ...... !!!





Dari lubuk hari yang paling kejam
Malam ini kau ingatkan aku pada teriakan orang-orang
pada kampung tua,
sepi menyepi,
Kumal mengusam
sudahlah tak usah kau membicarakannya
telah robek lembaran kepercayaan
dalam jalan setapak yang pernah kita lewati
saat langit menitikkan gerimis nelangsa
seperti hari itu
kau tusukkan ujung lida kedadaku
lalu kau iris kecilkecil,
dengan rapihnya kau potong bagian kecil itu
menjadi paling kecil bahkan lebih kecil dari semua yang terkecil
sampai tak terlihat merahnya
?? pun oleh kau
sebelum lembar langit membalut malam
carik-cari angin nirwana
membelo bagai burung cedrawasih
dari caramu sepertinya kau mulai dusta padaku
ah, sudahlah
sebelum kau temukan jasadku diujung senja
dengan potongan potongan pipah yang menyerupai matamu
aku ingin melihatmu dengan caha terangmu bernari-nari malu-malu dihalaman kampungku
diiringi gendangan tifa, melodi gitar dan suara-suara ratapan anak bayi, srimpi dan beduk terdengar ditelinga
serta gelak tawa yang kian mengendap dalam gelasku
sedang aku tergeletak dibalik mimbar
irisanirisan terkecil tubuhku
dan segelas air yang rasanya asin menyerupai air mata dalam geliak cahaya dilaut teluk
aku ingin mendengar suara kesombonganmu
tembang keserakaan roh-roh jahat, gula-gula kesobongan firaun, dan khorun
sayupsayup tangis bayi saat senja mulai tertidur
dan bunyibunyi aneh
seperti yang kau ceritakan padaku malam itu
Kini aku menjelma dalam pelita besar di pekarangan laut teluk
kadang menjadi api memanaskan kulit bumi juga kulit kau saat berjemur di pagi menjelang
dan burung cendrawasih yang bernyanyi saat senja tiba
”untuk kalian... sajak ini lahir dari lubuk hari yang paling kejam. ”

Bintuni, 2010

Malam sehelai

Malam sehelai, waktu syair quran menggetarkan titik-titik kalbu jiwa hati kecilku
Saat, Disudut lorong kelas dalam gelap malam ketia azan dilantungkan mendayung-dayung menebar keharuan saat usai dilantungkan Qur’an sura’t lukman
Merinding arona bersalah membasahi bola mata pipi ada tak tertahankan
Sejenak kutarik nafas merenung kehidupan membelai air mata kesedihan, penyesalan dan membisik memohon ampunan
Aduhai kehudapanku yang ada sebentar saja
Saat tawa dan tangis selalu menghiyasi lembaran hari-hari kehidupan
Sungguh, ada waktu yang terus berlari ada kisa yang pergi dan dantang
Membikai menjadi warna kehidupan hidup
Ketika suwara renung membelai setia serpihan sepi-sepi malam
Warna air mata Membelai gelap menyinari kegelapanku
Hampir saja dunia ini ku anggap hitam, sungguh karena terlalu banyak dosa-dosa yang kulakukan
Namun, sebersik cahaya quran membisik menerangi hitam kehidupan yang ku anggap
Ada yang pasti berubah ada yang tak mungkin datang mewarnai kampas kehidupan yang ada
Sedang, ketika malam menghujani pilipih mata
Apakah sedang berupaya menertawai kehidupan,
Merenungkan kehidupan
Menyesali kehidupan
Atau bahkan membenci kehidupan
Ah, kehidupan itu tidak bersalah
Kehidupan itu benar dan adalah nyata adanya
Cuma sedikit jalan yang berbelok mengajak kita pun berbelok
Sedang ada jalan yang lurus sebenarnya untuk kita lalui.
Yang nyata ketika kita kembali padaNya.
Aduhai hamba yang lupuh dari dosa dan sala
pada bunda dan ayah
Kan ku sujut dalam sajadah malam berdoa padaNya
Memohon dosa-dosa mereka dapat terampunkan
Memohon mereka selalu baik-baik disana adanya
Memohon mereka senyum gemulai bahagia, diberih tempat indah dalam surga-surga saat semua bersaksi PadaNya.

Nyanyian tangis alam Indonesia

Ada saja waktu datang menghadang nafas ini
Ada saja jaman membawah berita manusia
Berita alam membawa mencana,
ketika semua mulai tergila-tergila
merampas harta alam dengan merusaknya begitu saja
pujaan alam bumi negriku bagai tetesan syurga turun kebumi
langit-langit menghitam
laut mengeruh
sungai penuh dengan sampah-sampah
gunung habis lonsor digusur hujan tak ada pepohonan yang menahannya, udara tertutup kabut
pelangi-pelangiku berwarna-warni
mejikihibiniuh (merah, jingga, kuning, biru, nila, unggu)
sudah malu menampakkan warnanya
konon bidadari-bidadari turun kebumi bermain-main didanau tak tampak lagi.
ah, nurani ini marah, nurani ini jengkel, nurani ini emosi.
Emosi yang bermain-main didalam otak ini sudah penuh
Hati sudah tak menahan lagi kebiadaban manusia
Lewat tangan-tangan mereka, sepertinya dunia ini sudah murkah pada manusia.





SEBENTAR
Sebentar
Tunggu sebentar
Sebentar,
tunggu saya.
Sebentar saja
Saya ijin
Sebentar...
ada yang aku lihat Namun tak nampak
ada yang aku rasa Namun tak terabah
ada yang aku fikir Namun tak kelihatan
ada yang aku ucap Namun tak terdengar
oleh mata
oleh rasa
oleh otak
oleh telinga
sebentar....
tunggu sebentar...
sebentar,
tunggu saya.
Sebentar saja
tunggu sebentar saja
ada yang ada
datang tak bersuara pergipun tak pamit
tunggu
sebentar saja...
biar kita bersama berjalan bergandengan tangan
berkelana diatas pekarangan rumah ini
diats rumah roh-roh yang sedang menanti kedatangan kita
tunggu duloh,
saya hanya mengingatkan
harta dunia yang kita rampas dari orang lain
tak dibawah mati
lebih baik buang saja disini, biar fakir miskin, anak-anak terlantar yatim piyatu,kaum duafa merekalah yang berhak mengambilnya.
keserakahan menjadi orang kaya tak ada gunanya
cukupalah, kita berhenti menyombongkan diri dengan kebodohan dan kemiskinan kita semula.
Lebibaik,
Kita berdansa-dansa diatas nisan kubaran
Sambil menanti waktu
malaikat pencabut nyawa menghunus roh kita.
Sebentar
Sebentar saja
Jangan dulu Kau cabut roh ini
Saya belum bertaubat
Astaqfirullah Al Azim, Semua jadi diam. Posisi ini.
Malam ini
Malam minggu
Ijinkan aku bercinta
Dengan mu jiga dengannya...
Seperti engakau bercinta denganku
Dalam gelap, mala tampa bintang.

0 komentar:

Posting Komentar